OPINI: Langkah Pemerintah terhadap JPMorgan Tidak Tepat

Artikel ini berasal dari blog Medium saya, lalu dipublikasikan ulang di sini.

Seperti dilansir oleh Kompas, pemerintah memutus hubungan bisnis dengan bank investasi asal Amerika Serikat, JPMorgan, sejak 1 Januari 2017. Keputusan ini diambil setelah JPMorgan merilis laporan yang menurunkan peringkat saham Indonesia dari kategori overweight menjadi underweight. Perubahan ini, menurut pemerintah, diklaim dapat mengancam kestabilan sistem keuangan negara kita.

Dalam upaya memahami keputusan pemerintah ini, saya kemudian mencoba menelaah isi laporan yang dimaksud.

Laporan berjudul Trump Forces Tactical Changes (terjemahan: Trump Memaksa Perubahan Taktik) itu dirilis pada tanggal 13 November 2016. Dalam laporan itu, JPMorgan pertama mencermati bahwa suku bunga (imbal hasil) obligasi Amerika Serikat bertenor 10 tahun sudah naik 30 basis poin dari 1,85% menjadi 2,15% sejak kemenangan Donald Trump dalam pemilu presiden di negeri Paman Sam. Kenaikan ini memang sangat drastis, mengingat imbal hasil ini terus turun dalam tiga tahun terakhir.

Grafik tingkat suku bunga obligasi (surat hutang) bertenor 10 tahun dalam tiga tahun terakhir. Sumber: http://data.cnbc.com/quotes/US10Y, dengan tambahan tulisan oleh penulis (3 Januari 2017).

Kemudian, JPMorgan berpendapat, kenaikan suku bunga ini mengindikasikan harapan pelaku pasar mengenai kenaikan pertumbuhan ekonomi dan peningkatan defisit anggaran di Amerika. Sampai di sini, masih betul. Dalam kampanyenya, Trump memang berjanji akan meningkatkan belanja infrastruktur, meskipun diperkirakan akan menambah hutang Amerika.

Rekomendasi utama untuk investor dari laporan ini— dan yang kemudian menjadi kontroversi — adalah untuk mengurangi kepemilikan sejumlah saham perusahaan Indonesia. Sebagai gantinya, investor disarankan meningkatkan dana tunai atau membeli di negara berkembang lain, seperti Rusia dan Malaysia.

Kenapa demikian? Menurut analis JPMorgan, peningkatan premi risiko di Indonesia dan Brazil berpotensi membalikkan dana asing yang masuk ke negara-negara itu. Dengan bahasa yang lebih sederhana, JPMorgan berpikir risiko yang diemban dari investasi di Indonesia dan Brazil diperkirakan tidak sebanding dengan keuntungan yang akan diperoleh jika dibandingkan risiko dan suku bunga investasi di Amerika setelah terpilihnya Donald Trump (lihat Catatan kaki 1 untuk kutipan laporan aslinya).

Reaksi Pemerintah Berlebihan

Alasan JPMorgan ini terlihat subjektif, tapi memang begitulah tujuan dari laporan ini: untuk menyajikan opini analis di JPMorgan mengenai potensi investasi saham di negara-negara berkembang seperti Indonesia.

Langkah pemerintah untuk memutuskan hubungan bisnis semata-mata karena opini yang dimiliki JPMorgan terkesan berlebihan. Apalagi bila kita mencermati laporan yang dipermasalahkan ini, jelas dinyatakan bahwa opini underweight ini bersifat “taktik” alias sementara saja. Kembali mengutip laporan itu (lihat Catatan Kaki 1):

It is tactical in that both economies are improving supporting EPS [earnings-per-share] growth, and lower policy rates support valuations for full-year 2017. We think you will get a better buying opportunity. US and EM fixed income stability is a key condition to add back to these market.

Artinya, kepada investor yang membaca laporan itu, JPMorgan menyarankan untuk mencari kesempatan untuk membeli di harga yang lebih murah. Hal ini tidak berarti JPMorgan menyarankan investor menjual sahamnya karena fundamental ekonomi Indonesia lemah (yang jelas-jelas salah). JPMorgan hanya menyarankan investor untuk mencari peluang masuk yang lebih baik; hal yang wajar dilakukan oleh konsultan keuangan manapun.

Lagipula, karena ini opini, investor mungkin akan menerimanya dan menjual saham Indonesia yang dimilikinya. Tapi mungkin juga investor tidak akan mengikuti saran analis JPMorgan ini.

Di bulan Desember, lembaga pemeringkat Fitch Ratings menaikkan peringkat outlook Indonesia dari “stabil” menjadi “positif”, dan baru-baru ini bank investasi Amerika yang lain, Goldman Sachs, mengaku “optimis” dengan perekonomian Indonesia. Dua opini ini saja sudah cukup untuk menunjukkan bahwa investor masih memiliki kepercayaan untuk berinvestasi di Indonesia, meskipun JPMorgan berpikir sebaliknya.

Alasan bahwa opini JPMorgan berbahaya bagi stabilitas sistem keuangan Indonesia juga rasanya mengada-ada. Pemerintah tidak dapat memungkiri fakta bahwa guncangan akibat terpilihnya Donald Trump sebagai presiden Amerika bulan November lalu pasti akan menimbulkan gejolak terhadap pasar keuangan kita, terlepas dari pendapat analis JPMorgan mengenai pasar saham kita. Hal yang sama sudah kita lihat ketika krisis finansial global 2008 yang lalu, atau ketika Inggris memutuskan keluar dari Uni Eropa.

Pemerintah perlu menyadari bahwa dinamika harga saham dan nilai tukar pasti akan selalu ada, bagaimanapun kuatnya fundamental ekonomi kita. Dan sekuat-kuatnya fundamental ekonomi kita, Indonesia tidak bisa memaksakan opini investor untuk berhenti mencari kesempatan investasi yang lebih baik.

PR Pendalaman Pasar Keuangan

Daripada mengecam opini analis sebuah bank tentang potensi investasi di Indonesia, alangkah lebih baik bila pemerintah fokus dengan pekerjaan rumah yang relevan: pendalaman pasar keuangan.

Dangkalnya pasar keuangan kita terlihat dari rendahnya rasio sektor jasa keuangan terhadap produk domestik bruto (PDB) kita. Mengutip Master Plan Sektor Jasa Keuangan Indonesia 2015–2019, rasio kapitalisasi pasar saham terhadap PDB di Indonesia pada tahun 2014 baru sebesar 53%, sedangkan di negara-negara ASEAN bisa mencapai diatas 100%. Rendahnya kapitalisasi ini membuat Indonesia rentan dengan pergerakan arus modal asing yang keluar-masuk ke pasar keuangan kita.

Hal yang juga tidak membantu adalah rendahnya partisipasi investor kecil dalam pasar keuangan kita. Indonesia, negara besar dengan 250 juta penduduk, hanya memiliki 500.000 investor saham lokal yang aktif. Sebagai akibatnya, wajar bila setiap kali ada berita penutupan perdagangan saham di media cetak dan elektronik, indikator net foreign buy/sell pasti selalu muncul. Kita amat tergantung pada aliran modal asing untuk menghidupkan pasar keuangan kita, yang sangat penting untuk menjaga “aliran darah” perekonomian kita.

Pendalaman pasar keuangan, dan khususnya peningkatan investasi oleh investor lokal, akan sangat membantu dalam mengurangi ketergantungan Indonesia dengan arus modal asing.

Bila pemerintah bisa menerbitkan surat hutang dan menjualnya pada warganya sendiri, maka gejolak suku bunga di luar negeri takkan bisa berpengaruh sangat signifikan. Kalau saham perusahaan Indonesia dibeli oleh trader dalam negeri, maka ketika krisis muncul di negeri nun jauh, pemerintah bisa menyampaikan pesan yang lebih terarah (ke dalam negeri) untuk meredam gejolak pasar.

Dan bukankah itu yang kita namakan “stabilitas sistem keuangan”?

Ringkasan: Pemerintah tidak seharusnya memutus hubungan bisnis dengan JPMorgan semata-mata karena bank itu tidak memiliki opini positif jangka pendek mengenai investasi di Indonesia. Mari berbenah dengan mengupayakan pendalaman pasar keuangan domestik kita.

Catatan kaki 1:

Dikutip dari Trump Forces Tactical Changes, halaman 1 (cetak tebal berasal dari laporan aslinya):

This spike in volatility increases EM [emerging market] risk premiums (i.e. Brazil, Indonesia CDS) and potentially stops/reverses flows into EM fixed income. Our tactical response is to cut Brazil from OW [overweight] to Neutral, and Indonesia from OW [overweight] to UW [underweight]. It is tactical in that both economies are improving supporting EPS [earnings-per-share] growth, and lower policy rates support valuations for full-year 2017. We think you will get a better buying opportunity. US and EM fixed income stability is a key condition to add back to these market.…

Our colleagues are more cautious too: JPM view is now long US vs. EM, the global equity team cut their EM OW on 17 October and EM FX [foreign exchange] and rates team reduced IDR and BRL. Our preference would be to increase cash with the proceeds from Brazil and Indonesia. As this is not an option for us, we would add to Russia and are upgrading defensive Malaysia to OW. We remain neutral South Africa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s